Butuh di Paksa
Ust Umar Faqihuddin
Kebaikan bila di paksa. Banyak yang tidak terima. Banyak yang memilih menunggu hati suka. Baru kebaikan di coba. Itupun masih banyak alasan yang terus mengemuka.
Toh pada waktunya, kebaikan itu bakal dia suka. Dan di laksanakan dengan semangat menggelora. Kenyataannya di tunggu sampai tua. Masih begitu-begitu saja.
Tak juga bertambah kebaikan membiasa. Malah makan berat saja. Mulai lah melemah tenaga. Menurun kemampuan panca indra. Mulai punya alasan kedua.
Tabiat diri setiap kita, memang dengan kebaikan ndak suka. Kecenderungannya kepada yang melenakan dan membuat lupa. Kepada keburukan suka tergoda.
Maka, jangan nunggu kebaikan di hati suka. Tapi, kebaikan haruslah di paksa. Memang tidak akan nyaman dan bahagia. Sebagaimana bila keburukan yang memaksa.
Sesederhana istighfar yang ingin di istiqomahkan di baca. Butuh di paksa. Kapan dan di mulai dari berapa ? Kadang butuh alat dan mitra juga, sebagai sarana.
Bila awalnya di paksa. Di ulang terus sambil di perkaya dengan makna. Lama-lama akan menjadi terbiasa. Rasa berat dan terpaksa pun mereda.
Anak kecil yang sulit makan pun butuh di paksa. Dengan segala cara. Akhirnya mulai suka. Dan akhirnya makan pun terbiasa.
Akhirnya menjadi budaya. Ada yang kurang, bila belum terlaksana. Ada yang gak manteb kalau lupa. Menjadi karakter diri sepanjang masa.
Begitu juga kebaikan yang di proses dan di tempa. Menjadi karakter indah mempesona. Buah dari dahulu yang awalnya terpaksa.
Terpaksa dalam kebaikan bukan sesuatu yang hina. Di banding dalam keburukan suka. Semoga kebaikan bagi kita, menjadi budaya.
Kebaikan bila di paksa. Banyak yang tidak terima. Banyak yang memilih menunggu hati suka. Baru kebaikan di coba. Itupun masih banyak alasan yang terus mengemuka.
Toh pada waktunya, kebaikan itu bakal dia suka. Dan di laksanakan dengan semangat menggelora. Kenyataannya di tunggu sampai tua. Masih begitu-begitu saja.
Tak juga bertambah kebaikan membiasa. Malah makan berat saja. Mulai lah melemah tenaga. Menurun kemampuan panca indra. Mulai punya alasan kedua.
Tabiat diri setiap kita, memang dengan kebaikan ndak suka. Kecenderungannya kepada yang melenakan dan membuat lupa. Kepada keburukan suka tergoda.
Maka, jangan nunggu kebaikan di hati suka. Tapi, kebaikan haruslah di paksa. Memang tidak akan nyaman dan bahagia. Sebagaimana bila keburukan yang memaksa.
Sesederhana istighfar yang ingin di istiqomahkan di baca. Butuh di paksa. Kapan dan di mulai dari berapa ? Kadang butuh alat dan mitra juga, sebagai sarana.
Bila awalnya di paksa. Di ulang terus sambil di perkaya dengan makna. Lama-lama akan menjadi terbiasa. Rasa berat dan terpaksa pun mereda.
Anak kecil yang sulit makan pun butuh di paksa. Dengan segala cara. Akhirnya mulai suka. Dan akhirnya makan pun terbiasa.
Akhirnya menjadi budaya. Ada yang kurang, bila belum terlaksana. Ada yang gak manteb kalau lupa. Menjadi karakter diri sepanjang masa.
Begitu juga kebaikan yang di proses dan di tempa. Menjadi karakter indah mempesona. Buah dari dahulu yang awalnya terpaksa.
Terpaksa dalam kebaikan bukan sesuatu yang hina. Di banding dalam keburukan suka. Semoga kebaikan bagi kita, menjadi budaya.
Komentar
Posting Komentar